SINAR NUSA NEWS

Informasi - Aspirasi - Inspirasi

Saturday, 25 February 2017

Petani Kecewa Gabah Dibeli Murah

Pekerja di penggilingan padi Desa Gunting, Kecamatan Wonosari, kemarin menjemur gabah di halaman gudang. (suaramerdeka.com/ Achmad Hussain)

KLATEN,  – Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Klaten terus terjun di bawah harga pembelian pemerintah (HPP).
Hadi, petani warga Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari mengatakan sudah sepekan ini harga gabah terus anjlok. “Harga gabah basah hanya Rp 3.000 dan GKP Rp 3.200 per kilogram,” jelasnya, Sabtu (25/2).
Harga gabah basah dan GKP terus terjun sebab cuaca yang tidak bagus tahun ini. Hujan yang terus turun menyebabkan kadar air di gabah tinggi. Bahkan hujan yang kadang disertai angin membuat padi ambruk dan terendam.
Padi yang ambruk dengan kadar air semakin tinggi mau tidak mau harus dipanen dan gabah basahnya hanya dihargai Rp 3.000. Sedangkan jika GKP yang kadar airnya lebih rendah karena tidak ambruk hanya ditawar Rp 3.300 per kilogram.
Untuk membawa pulang agar menjadi gabah kering giling (GKG) petani harus mengeringkan dengan tenaga yang tidak sedikit.
Sebab takut rugi karena hujan terus turun banyak petani menjual GKP meski harganya di bawah harga resmi. Tahun 2015 sampai musim tanam II 2006 lalu, harga GKP masih Rp 3.700 meski hujan mulai turun. Namun sejak pertengahan 2016 harga terus anjlok.
Padi yang di lahan pun tidak jauh berbeda. Satu patok luas 1.800 meter2 di daerahnya hanya dibayar Rp 2 juta oleh tengkulak. Sedangkan biaya tanam sampai panen saja Rp 1,5 juta. Jika dihitung dengan tenaga maka petani bisa impas atau merugi.
Pedagang gabah, Bagyo warga Desa Gondangsari, Kecamatan Juwiring mengatakan GKP memang hanya di kisaran Rp 3.300 per kilogram atau di bawah HPP sebesar Rp 3.700. Sementara GKG hanya sampai Rp 4.200 per kilogram. “Tidak hanya di Klaten, di Sukoharjo bahkan di wilayah Pantura juga jatuh,” katanya.
(Achmad Hussain/ CN33/ SM Network)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Archive